<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047</id><updated>2012-02-16T06:50:53.078-08:00</updated><title type='text'>berkata-kata</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-4703185342942653770</id><published>2010-03-25T08:21:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T08:31:05.849-07:00</updated><title type='text'>Kontribusi Sastra Bagi Bangsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_qi9I1PxdbN0/S6uBSmhFH9I/AAAAAAAAAC4/n4XRkWPBQKo/s1600/MENYEMAI+KARAKTER+BANGSA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 210px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_qi9I1PxdbN0/S6uBSmhFH9I/AAAAAAAAAC4/n4XRkWPBQKo/s320/MENYEMAI+KARAKTER+BANGSA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452593930439040978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Zakki Amali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan untuk apa sastra ditulis telah lama menggema dari ruang penyemaian nobel sastra. Secara garis besar terpecah menjadi dua. Golongan pertama bermaksud menulis sastra untuk kepentingan estetis. Tak ada propaganda di dalamnya. Golongan kedua, lebih mengendepankan daya dobrak yang dimunculkan sastra. Sastra ditulis untuk mendobrak sesuatu.&lt;br /&gt;Rodhi As'ad dalam pengantar Pengakuan Para Sastrawan Dunia Pemenang Nobel (2006) mengisahkan muara dari sastrawan dunia tersebut. Golongan pertama, menekankan berpulangnya sastra pada sastra. Karena mereka hidup pada pemerintahan lalim, diktator. Mereka tidak ingin terjebak dengan kekuasaan (politik). Sebaliknya mereka mendamba kebebasan dalam bersastra.&lt;br /&gt;Golongan kedua, mendudukan sastra sebagai alat perubahan sosial. fiksi yang ditulis sarat muatan tertentu yang mengarah pada daya dobrak. Karya ini tendensinya kuat dalam membela hak-hak rakyat. Dalam konteks buku Yudi Latif ini, sastra yang dikajinya berada diposisi ini.&lt;br /&gt;Imajinasi Kemerdekaan&lt;br /&gt;Sekujur bagian dalam buku Yudi membincang sastra sebagai alat perubahan sosial. lacakannya dimulai dari kisah perjuangan kaum pribumi membentuk imajinasi kemerdekaan. Yudi mengisahkan bahwa gairah kemerdekaan berawal dari imajinasi kemajuan "bangsawan pikiran" yang ditulis Abdul Rivai pada tahun 1902. Rivai menilai bangsawan pikir merupakan rakyat biasa, tetapi mempunyai kadar intelektualitas tinggi dan loyal terhadap bangsanya. Ini kebalikan dari "bansawan usul" yang hanya menerima gelar bangsawan dari warisan leluhurnya (hlm. 8-9).&lt;br /&gt;Pemahaman sastra oleh Yudi tidak sebatas bentuk karya (novel, cerpen, puisi, sajak, dll), melainkan dalam kerangka menggali hakikat sastra sebagai sebuah imajinasi kata yang tak beruang dan berwaktu. Maka, ketika dipahami demikian, sastra yang hadir di sini adalah perjuangan kata melawan kolonialisme. Pada bagian awal dari buku ini imajinasi kebebasan sangat kentara, dimana kata melahirkan multiefek yang luar biasa dalam etos kemerdekaan.&lt;br /&gt;Kata sebagai bagian yang menyusun sastra memperlihatkan kesaktiannya ketika menyebar ke seluruh pelosok negeri. Media massa (koran) sebagai juru bicara kata, dinaiki oleh imajinasi kemerdekaan yang digerakkan oleh tokoh-tokoh pendiri bangsa (founding father). Soekarno, M. Hatta, Sutan Sjahrir, M. Natsir adalah tokoh yang gigih bergerak di balik layar media massa menyuarakan kemerdekaan. Kesatuan visi dan misi merobohkan kolonialisme dibangun oleh kerja wacana dan kata (hlm. 13).&lt;br /&gt; Sastra (kata) mempunyai apa yang dinamakan Georg Lukacs, dikutik Ignas Kleden (2005: 9), sebagai efek pantulan. Sastra menimbulkan impresi atau pengaruh tertentu kepada masyarakat yang menikmati sastra. Sehingga menimbulkan reaksi baku dalam kesehariannya. Hal ini tercermin dari keberadaan arus kata pada awal abad 19.&lt;br /&gt;Penyeimbang&lt;br /&gt;Realitas abad 20 membuat kajian sastra Yudi mengarah pada hal baru. Ketika kedaulatan bangsa Indonesia telah direngut, sastra mempunyai posisi baru sebagai penyeimbang pemerintahan (kekuasaan). Yudi mengungkapkan itu sebagai bagian dari posisi minyak yang tak bisa menyatu dengan air.&lt;br /&gt;Kekuasaan tak bisa dipisahkan dari politik, karena dengan politik kuasa itu tercapai. Maka, sastra hadir sebagai penyeimbang atau kontrol sosial dari kekuasaan. Bahwa kekuaaan cenderung korup (tends to corrupt). Sehingga sastra memberikan sentilan-sentilan terhadap prilaku penguasa. Ini juga memberikan catatan bagi sastra itu sendiri agar tak terjebak pada ruang kuasa-politik. Sehingga independensinya tetap terjaga, sebagai penyeimbang kekuasaan (hlm. 75-76).&lt;br /&gt;Sastra sebagai penyeimbang, berarti mengambil jarak dari pusara kuasa-politik. Politik didekati sastra bukan untuk digeluti, tetapi mengambil sari pati mutiara kehidupan. Kelahiran karya sastra juga banyak terinspirasi dari peristiwa politik atau mempunyai tendensi politik. Pada titik ini marwah kesastraaan seorang sastrawan dipertaruhkan dalam menjaga independensinya.&lt;br /&gt;Transformasi&lt;br /&gt;Harapan terbesar Yudi dalam kajian sastra adalah bangkitnya bangsa Indonesia yang mempunyai khazanah sastra-kata ini dari keterkungkungan diri. Sastra menawarkan berjibun daya dorong dan etos kemajuan. Yudi memformulasikan tiga transformasi yang harus dilakukan oleh rakyat Indonesia untuk bangkit (hlm. 141).&lt;br /&gt;Pertama, sarat kebangkitan adalah melakukan transformasi mitos. Fase ini sebagai penghapusan mitos bahwa unsur senioritas adalah segalanya dalam kepepemimpinan. Maka, kaum muda harus berada di garda terdepan dalam gerak bangsa, sebagaimana tokoh pendiri bangsa yang masih berumur muda, tetapi menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;Kedua, adanya transformasi pemahaman (logos). Pemuda era itu erat kaitannya dengan tingginya kadar pendidikan, sehingga muncul istilah pemuda-pelajar. Realitas historis ini ditransformasikan pada pemuda saat ini untuk memperbaiki daya insaninya. Kemajuan bangsa tidak cukup dengan hanya mengandalkan sumber daya alam saja. Pemuda dengan segudang ilmu pengetahuannya merupakan tali yang kokoh mengikat kemajuan bangsa. Ini merupakan lanjutan dari fase pertama. Pemuda harus sadar pendidikan.&lt;br /&gt;Ketiga, adalah transformasi etos. Etos relegius dan kreatifitas harus ditumbuhkan mengantikan sistem etos yang usang (tak jujur, malas, inferior, dll). Relegiusitas mengada sebagai kebangkitan batin. Manusia terdiri dari elemen lahir (fisik/tubuh), dan batin (jiwa/nafs). Relegiusitas hadir mengisi kekosongan isi jiwa. Manusia yang berisi jiwanya, akan terlihat kokoh dalam mengarungi kehidupan. Kedalaman jiwanya menangkap isyarat zaman sangat mudah, sehingga menimbulkan kepekaan terhadap alam sekitarnya.&lt;br /&gt;Transformasi etos kreatif harus dilakukan karena persaingan global mensyaratkan kreatifitas. Perkembangan ekonomi saat ini bukan lagi berorientasi pada penguasaan tanah dan tenaga manusia, melainkan bersandar pada intelegensia, pengetahuan, dan kreativitas (hlm. 150). Ketiga tranformasi ini merupakan prasyarat budaya kebangkitan yang didedahkan Yudi.&lt;br /&gt;Memecah Kebekuan&lt;br /&gt;Meski kesaktian sasrta telah terpampang, tampaknya harus menyerah kepada logika pendidikan yang hanya menempatkan sastra pada nomor kesekian. Pesimisitas muncul disaat jam pengajaran bahasa Indonesia. Yang lebih dipentingkan adalah tata bahasa yang benar, ejaan yang disempurnakan (EYD), serta teknis struktur kalimat, dsb (hlm. 159)&lt;br /&gt;Kegelisahan itu muncul dari Putu Wijaya pada epilog buku ini. Sastra di tangan pengajar kehilangan orientasinya, untuk apa sastra diajarkan. Kegamangan ini sebetulnya, telah dijawab oleh Yudi secara mendalam. Tetapi sayang, toh jika buku ini dilewatkan kebekuan sastra di dunia pendidikan menjadi-jadi.&lt;br /&gt;Strategi memecah kebekuan dengan memerlihatkan dahsyatnya pemikiran sastra ini laik diapresiasi dan diakrabi oleh, tidak hanya para pendidik, tetapi masyarakat luas. Kajian sastra yang terpancar dari ulasan Yudi membawa penghargaan akan tradisi literer yang melingkupi sastra. Sastra menjadi barang berharga dalam dinamika peradaban manusia.&lt;br /&gt;Meski buku ini tersusun dari beberapa makalah, pengantar buku, atau ulasan lainnya, tetap merupakan karya yang utuh membincang sastra dari perspektif kebangkitan bangsa. Yudi telah berhasil membangkitkan memori kebangkitan bangsa yang jaraknya puluhan tahun untuk dihadirkan di depan pembaca, sebagai sebuah kajian kontribusi sastra bagi bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Buku&lt;br /&gt;Judul  : Menyemai Karakter Bangsa : Budaya Kebangkitan Berbasis Sastra&lt;br /&gt;Penulis  : Yudi Latif&lt;br /&gt;Penerbit  : Buku Kompas&lt;br /&gt;Halaman  :  XXIV+184 halaman&lt;br /&gt;Cetakan  : November, 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-4703185342942653770?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/4703185342942653770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2010/03/kontribusi-sastra-bagi-bangsa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/4703185342942653770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/4703185342942653770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2010/03/kontribusi-sastra-bagi-bangsa.html' title='Kontribusi Sastra Bagi Bangsa'/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_qi9I1PxdbN0/S6uBSmhFH9I/AAAAAAAAAC4/n4XRkWPBQKo/s72-c/MENYEMAI+KARAKTER+BANGSA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-9128443214665126419</id><published>2010-01-30T22:46:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T22:49:49.061-08:00</updated><title type='text'>Pansus Buku Centurygate</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menuju "Pansus" Buku Skandal Century&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;zakki amali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Bank Cen1tury bergulir kian menggila. Spekulasi peredaran dana talangan sebesar Rp 6,7 M tiada habis dibincang. Fenomena teranyar adalah terobosan yang diakukan George Junus Aditjondro dengan menginvestigasi aliran dana lewat bukunya Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century. Sontak komentar bernada mayor maupun minor bertebaran membumbui peluncuran buku itu.&lt;br /&gt;Buku yang baru seumur jagung tersebut banyak dibincang orang karena dengan berani mencoba menyibak kabut tebal aliran dana talangan. Secara garis besar buku itu berisi Bantuan Grup Sampoerna untuk Harian Jurnas, Pemanfaatan PSO LKBN Antara Untuk Bravo Media Center, Yayasan-yayasan yang Berafiliasi Dengan Ny Ani Yudhoyono, Pelanggaran-pelanggaran UU Pemilu oleh Caleg-caleg Partai, kemudian bagian akhir buku berupa kesimpulan dan sejumlah bahan referensi dan lampiran-lampiran.&lt;br /&gt;Skandal Century tampaknya akan mengalami masa percepatan karena rasa penasaran yang kian meninggi. Arus pertanyaan terhadap kebenaran data yang diungkap deras mengucur dari publik. Jika tidak terpenuhi, rakyat akan bertindak sendiri menggalang kekuatan menuntaskan kasus. Aditjondro memberikan warning kepada pemerintah untuk segera menuntaskan kasus Century yang merugikan rakyat ini.&lt;br /&gt;Buku Aditjondro memang menohok kekuasaan, seperti diformulasikan Munawir Aziz (Jawa Pos, 10/1) di ruang ini. Hingga sekarang tantangan Aditjondro untuk mengklarifikasi atau debat publik tidak pernah dijawab oleh penguasa dari Cikeas. Bahkan cenderung diam dan melontarkan statement yang ganjil, seolah membenarkan dugaan Aditjondro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagalnya 'Perang'&lt;br /&gt;Kisah buku ini tampaknya memasuki babak seru dengan adanya buku besutan Setiyardi bertitle Hanya Fitnah dan Cari Sensasi, George Revisi Buku dan Cikeas Menjawab! karya Garda Maeswari (nama asli Lilih Prilian Ari Pranowo). Angin segar sebelum buku ini terbit terdengar indah dengan andaian buku itu lahir sebagai tandingan dan klarifikasi. Namun kedua buku itu jauh dari harapan masyarakat.&lt;br /&gt;'Perang' buku yang seharusnya terjadi dalam kasus Century hingga sekarang belum terjadi. Kedua buku itu hanya memenuhi aspek marketing atau potensi pemasaran saja. Jauh dari perang buku yang dibayangkan masyarakat. Buku pertama karya Setiyardi hanya diperuntuhkan untuk mendulang rupiah dan pembuka perusahaan cetaknya. Ia hanya menyelesaikannya dalam waktu satu hari dengan tebal 31 halaman. Orang yang telah membaca buku itu mengatakan bahwa karya Setiyardi tak ubahnya seorang resensator buku, hanya saja space-nya panjang dan disertai bantahan kecil menganai argumen yang digunakan Aditjondro.&lt;br /&gt;Buku kedua karya Garda tak jauh beda dengan yang pertama. Meski terlihat agak lebih serius dibanding buku pertama, Garda tetap terjebak pada kepentingan pasar. Buku setebal 172 halaman ini diselesaikan dalam waktu empat hari. Secara garis besar buku ini berisi mengenai pandangan berbagai pihak yang tidak sependapat dengan Aditjondro, seperti politisi, ilmuwan, dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Garda mengakui bahwa buku ini lahir untuk memberikan informasi yang berimbang kepada masyarakat pasca terbintya buku Aditjondro.&lt;br /&gt;Meski keduanya tidak mengakui tidak ada campur tangan dari pihak Susilo Bambang Yudhoyono, buku tersebut tetap dinilai gagal dalam menyemai 'perang' buku. Perang buku mengandaikan adanya pertarungan intelektual dengan senjata karya berupa buku. Lahirnya buku-buku yang mengupas kejahatan dibalik kasus Centurygate ini merupakan langkag ilmiah pada ilmuwan mendedahkan kebenaran pada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Pansus' Buku&lt;br /&gt;Dengan adanya buku tandingan perang buku beralih pada fase 'pansus' buku. Pansus buku mengandaikan adanya pertautan antar buku, dari buku ke buku untuk mencapai sebuah titik tertentu. Titik dalam pertautan buku dari kasus Century adalah pemecahan masalah dengan diketahuinya aliran dana serta mengembalikan hak-hak rakyat yang teraleanasi.&lt;br /&gt;Pansus buku akan mendudukan masalah pada porsi yang sama. Pola-pola yang digunakan tidak lagi sporadis, melainkan tertata rapi. Pansus buku merupakan sebuah sistem demokrasi dalam peradaban buku. Buku dijajarkan sama untuk dibahas dengan alat analisa masing-masing.&lt;br /&gt;Dengan pansus buku, cara-cara tandingan yang hanya mengandalkan tuturan akan tergantikan. Cara tutur atau memberikan komentar adalah hal yang tak abadi dan cenderung tendensius. Meski buku juga mempunyai tendensi tertentu, tetapi dalam masyarakat intelektual, buku merupakan bukti dan cermin intelektualitas seseorang. Sehingga tidak hanya muatannya saja yang disorot, kadar bobot validitas data, metode, referensi yang digunakan menjadi perhatian penting.&lt;br /&gt;Buku-buku yang mendedah kasus Century akan dibedahdebatkan untuk mencari titik temu, silang pendapat atau saling melengkapi sehingga membuka pintu kasus yang sulit dibuka. Lewat pansus buku ini terekam jejak penyelesaian masalah dengan kadar intelektualitas yang tinggi. Buku yang nantinya akan membahas kasus Century ini akan menjadi pintu bagi siapa saja untuk memahami ataupun mendalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Cerdas&lt;br /&gt;Gagasan pansus buku ini diharapkan menjadi loncatan pencerdasan kepada masyarakat. Masyarakat yang selama ini hanya melihat dari jauh penyelesaian Century dapat dilibatkan secara langsung. Masyarakat akan mengkomsumsi data informasi tentang Century yang tak mudah dicerna, karena tunggalnya nada buku. Untuk itu, buku penyeimbang laiknya sudah menjadi aganda mendesak yang harus direalisasikan.&lt;br /&gt;Buku tunggal dan bernada sumbang terhadap kasus Century akan membutakan masyarakat pada apa yang sebenarnya terjadi di balik Century. Buku penandinglah yang akan menyeimbangkan informasi yang beredar dengan otoritas yang sebenarnya. Masyarakat akan menerima informasi yang utuh mengenai Century. Sehingga masyarakat akan menjadi entitas yang cerdas.&lt;br /&gt;Masyarakat bukan tidak mungkin menjadikan momentum pansus buku ini sebagai lompatan bentuk-bentuk pencerdasan lainnya melalui peradaban buku. Pencerdasan kasus ini pada masyarakat tidak bertujuan untuk membebani nasibnya yang sudah tersakiti oleh Century, tetapi sebentuk medan uji peningkatan daya cerap masyarakat terhadap informasi dan pencerdasan massal.&lt;br /&gt;Pansur buku Skandal Century sangat mungkin terwujud dengan adanya satu sumber atau buku klarifikasi dari pihak yang merasa terduduh dalam buku-buku sebelumnya. Momen inilah yang akan menghidupkan iklim demokrasi buku di negara ini. Buku dibalas dengan buku, bukan dengan memberangusnya. Tanpa buku pembanding yang cergas dan cerdas pemahaman masyarakat melalui jalur buku ini akan dipertahankan dengan memegang pengetahuan yang telah diperolehnya. Buku pembanding laik muncul.&lt;br /&gt;Keberadaan pansus buku Skandal Century mempunyai muara yang sama yakni berakhirnya derita rakyat, sebagaimana peran Pansus Century di DPR RI yang tengah menunaikan tugasnya. Kini buku pemantik telah beredar, bagaimana dengan lakon buku pembandingnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;digunting dari Jawa Pos/Di Balik Buku, 17 Januari 2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-9128443214665126419?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/9128443214665126419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2010/01/pansus-buku-centurygate.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/9128443214665126419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/9128443214665126419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2010/01/pansus-buku-centurygate.html' title='Pansus Buku Centurygate'/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-7210720023224548705</id><published>2010-01-08T03:16:00.000-08:00</published><updated>2010-01-08T03:19:36.779-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Heroisme “Ibu”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Zakki Amali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasi kepahlawanan Indonesia tak dapat dilepaskan dari kiprah kaum hawa. Sejarah mencatat bahwa tak sedikit perempuan yang ikut mengorbankan nyawanya membela bangsa. Terminologi pahlawan dalam artian peperangan ataupun sumbangsih terhadap kemajuan bangsa telah dilakukan oleh mereka. Kita mengenal sederet nama, seperti Nyai H. Siti Walidah Ahmad Dahlan, R.A Kursiah Retno Edhi, Hj. Rasuna Said, Maria Walanda Marawis, Raden Dewi Sartika.&lt;br /&gt;Di bawah rentetan ledakan bom, letupan senjata, dentuman meriam perempuan berjibaku melibas musuh bangsa. Perempuan meneteskan darah, tangis, sekaligus air susu untuk bangsa ini. Di sini fungsi perempuan tak sekadar menjadi seorang ibu yang baik. Lebih dari itu, perempuan meleburkan akumulasi keakuan yang meliputi suami, anak, orang tua, sanak famili, untuk kemudian menjadi bagian dari pergerakan melawan penjajah.&lt;br /&gt;Perempuan mempunyai double body. Sisi tubuh satu adalah untuk publik (bangsa), dan sisi satunya adalah privat (keluarga). Di satu sisi ia menjadi ibu bagi keluarganya, di sisi lain ia menjadi ibu yang memerjuangkan bangsa. Perempuan pejuang adalah mereka yang mampu menyeimbangkan dua sisi tubuhnya dalam ritme perjuangan bangsa. Mereka inilah yang akan membawa panji kesetaraan terhadap nada minor tentang perempuan.&lt;br /&gt;Perempuan bukan hanya konco wingking yang mengandaikan perannya berada pada ruang privat yang tak jauh dari laku masak, manak, dan macak. Perempuan adalah elemen pembangun bangsa yang sangat penting. Ketiadaan perempuan dalam derap pembangunan bangsa adalah masalah besar.&lt;br /&gt;Soekarno dalam Sarinah (1963 : 5) menegaskan bahwa soal perempuan adalah soal masyarakat. Pembangunan pasca kemerdekaan menurutnya tidak akan berjalan selaras jika tidak mengerti soal perempuan. Maka, gerakan yang dibangun Soekarno di awal era kemerdekaan adalah pemberdayakan perempuan melalui kursus-kursus yang terkait ketrampilan dasar perempuan yang menjadi trend pada waktu itu.&lt;br /&gt;Dalam Konteks wacana Soekarno mendedahkan dalam buku itu adalah membangkitkan spirit kesetaraan. Perempuan jangan hanya berkutat dalam ruang privat. Indonesia menanti perempuan-perempuan pejuang yang berjibaku pada ruang publik. Perempuan harus berjuang, turun di laga peperangan, pemerintahan, pelyanan publik, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Melawan&lt;br /&gt;Fedwa El Guindi dalam Jilbab, Antara Kesalehan, Kesopanan, dan Perlawanan (2005 : 269-270) mengisahkan perjuangannya melawan kolonialisme Perancis terhadap Al Jazair. Isu perlawanan berkisar pada pertaruhan jilbab. Fedwa berteriak lantang menolak tekanan Perancis untuk melepas jilbab. Jibab dalam tradisi Al Jazair menjadi akar kebudayaan. Ketercerabutan jilbab dari tradisi Al Jazair adalah awal keruntuhan. Jilbab adalah lambang kehormatan. Dan itu harus diperjuangkan, meski di bawah tekanan penjajah.&lt;br /&gt;Reproduksi makna perempuan dalam konteks kepahlawanan adalah perjuangan. Tak ubahnya dengan laki-laki, perempuan pun turut andil dalam kemerdekaan dan kemajuan bangsa dari pelbagai hal.&lt;br /&gt;Narasi kesetaraan yang dedahkan Fedwa tak ubahnya seperti yang dilakukan R.A Kartini pada paruh akhir abad 19. Kartini berada pada tekanan budaya patriarki yang sakral dan sarat kuasa. Hidup sebagai anak seorang Bupati Jepara membuat kisah perjuangan kesetaraan Kartini begitu sulit. Impian Kartini untuk menjadi guru nyaris tercapai ketika Pemerintah Belanda memberikan kesempatan beasiwa belajar di Sekolah Guru di Belanda. Kartini hanya bisa manut ketika ayahnya melarangnya, untuk kemudian dinikahkan dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.&lt;br /&gt;Kondisi sosiologis dan psikologis yang menekan gerak perempuan membuat Kartini semakin gesit menancapkan bendera kesetaraan. Dengan bekal pribadi, di Jepara dan Rembang Kartini merintis sekolah yang didedikasihkan untuk perempuan. Ajaran Kartini sangat sederhana. Diawali dengan pemberdayaan perempuan, seperti pembekalan ketrampilan menjahit, menyulam, memasak, dan lainnya. Bekal itu adalah pintu bagi kemandirian seorang perempuan. Sebuah rintisan jalan menapaki ruang publik yang masih tabu.&lt;br /&gt;Kartini adalah lakon heroisme ibu. Pahlawan perempuan dalam narasi besar bangsa Indonesia yang selalu tampak nomor sekian. Agak sesuai dengan tesis sejarah bahwa sejarah hanya milik orang menang. Dan perempuan berada pada pihak yang kalah. Dominasi kuantitas dan kualitas jauh tertinggal dengan sosok kepahlawanan bangsa ini yang tiga perempat lebih adalah laki-laki.&lt;br /&gt;Tantangan&lt;br /&gt;Fakta ini merupakan tantangan baru menepis stigma-stigma satir tentang ibu yang serba lemah. Kepahlawanan perempuan adalah lambang kebangkitan untuk terus melanjutkan spirit perlawanan terhadap kebengisan zaman. Setiap zaman mempunyai masalah dan pemecah masalah tersendiri.&lt;br /&gt;Abad 19 adalah masa perintisan bangsa yang berdarah-darah. Maka yang dibutuhkan adalah mereka yang dapat memanggul diri turun di medan laga. Era milenia ini merupakan salinan dari era sebelumnya. Perjuangan tetap digaungkan, namun konteksnya yang lain.&lt;br /&gt;Perempuan mempunyai seabrek agenda heroik kekinian yang harus dituntaskan. Komodifikasi perempuan dalam berbagai bentuk, halus ataupun kasar menjadi agenda penting. Perdagangan perempuan terus menanjak setiap tahun, kekerasan rumah tangga banyak yang menimpa perempuan, pelecehan seksual pada perempuan TKI, dan kisah minor perempuan lainnya.&lt;br /&gt;Penjajahan tak lagi kasat mata. Ia menyelusup dalam nalar kehidupan. Perempuan seringkali berada pada titik lemah untuk mengatakan “tidak” pada penjajahan. Perjuangan perempuan kekinian adalah melawan penjajahan terhadap harkat dan martabat perempuan yang sering diinjak-injak. Narasi tentang ibu tak lagi bersifat minoritas dengan nada sumbang yang diasosiasikan dengan kelemahan fisik, lamban, dan entitas yang selalu tertindas. Narasi tentang ibu melampaui domain-domain bangsa. Ibu menjadi kuat dan tegak menghadapi zaman.&lt;br /&gt;Hari Ibu ini adalah momentum besar menegakkan sendi-sendi perjuangan dan kepahlawanan pada dalam detak jantung kaumnya. Perempuan harus senantiasa menyambung lidah perjuangan dan kepahlawanan di bangsa ini. Agenda-agenda besar yang harus dilawan begitu banyak. Sekecil apapun perjuangan yang dilakukan jubah kepahlawanan laik disandang. Hari ibu adalah tantangan dan peluang bagi perempuan untuk menyuarakan keadilan, kesetaraan, dan perjuangan melawan segala bentuk penjajahan terhadap perempuan. Ibu harus menguarkan aroma perjuangan dan kepahlawanan mengiringi keberlangsungan bangsa ini, tidak sekadar cukup berada dalam ranah domestik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;digunting dari Jawa Pos/Opini, 22 Desember 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-7210720023224548705?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/7210720023224548705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2010/01/heroisme-ibu-oleh-zakki-amali-narasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/7210720023224548705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/7210720023224548705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2010/01/heroisme-ibu-oleh-zakki-amali-narasi.html' title=''/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-9219492335976532932</id><published>2009-12-21T06:32:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T06:40:26.850-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memangkas Korupsi Dari Rasio&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;oleh : Zakki Amali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi menyebabkan bangsa Indonesia bangkrut. Bangkrut dalam hal kepercayaan dan kehabisan dalil untuk meyakinkan rakyat bahwa kita benar-benar bersih. Praktik korupsi oleh sebagai oknum menjadi titik hitam yang membawa nama Indoneisia terpelanting naik pada daftar korupsi dunia Internasional.&lt;br /&gt;Peringkat korupsi Indonesia di dunia termasuk besar. Setidaknya dapat dilihat dari indeks persepsi korupsi (IPK) di Indonesia serta banyaknya pejabat yang terjerat kasus korupsi. Transparency International melansir survei persepsi korupsi di Indonesia berada diurutan ke 143 dengan nilai 2,3. Skor Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,1 dibandingkan IPK tahun 2006 (2,4). Dengan kata lain pemberantasan korupsi di Indonesia menurun. Sebagai catatan, semakin rendah indeks persepsi menunjukkan tingginya tingkat korupsi, demikian sebaliknya, dengan rentang indeks antara 0 (sangat korup) dan 10 (sangat bersih).&lt;br /&gt;Dengan nilai IPK tersebut, negara kita masuk daftar negara yang dipersepsikan terkorup di dunia bersama dengan 71 negara yang skornya di bawah 3. Dalam peringkat dunia Indonesia tergolong lima besar, sementara di lingkup Asia menempati posisi kedua setalah Filipina.&lt;br /&gt;Ini menjadi penanda bahwa praktik korupsi semakin tak terbendung. Pola-pola relasi kekuasaan menyumbangkan potensi korupsi tersendiri. Analisa ini dikemukakan oleh Lord Action dalam suratntya kepada Uskup Mandell Creighthon pada tanggal 3 April 1887, menghubungkan korupsi dengan kekuasaan. "Power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely". Bahwa kekuasaan cenderung korupsi dan kekuasaan absolut merupakan korupsi.&lt;br /&gt;Analisa Lord membenarkan kekejaman yang telah menimpa Indonesia pada era akhir abad 20, dimana korupsi dengan latar belakang kekuasaan merajalela. Kekuasaan menjadi alat untuk meraup pundi-pundi rupiah demi keuntungan pribadi.&lt;br /&gt;Sekarang pun kita dapat melihat kecenderungan untuk itu. Angket Century yang telah digulirkan tidak lepas dari potensi menjadi alat korupsi. Penumpang gelap selalu mengintai dan mencari peluang menjadikannya daya tawar dengan aktor dalam penggelapan dana talangan sebesar Rp 6,7 triliun. Hak angket menjadi panggung kekuasaan untuk mengoalkan masalah rakyat atau menjerumukannya. Potensi sikap korup ini dapat dilacak asalnya dari keberadaan rasio yang telah kehilangan nurani.&lt;br /&gt;Berawal Dari Rasio&lt;br /&gt;Manusia adalah mahluk yang berpikir. Ini membedakan antara mahluk satu dengan lainnya. Manusia beda dengan hewan, tetumbuhan, ataupun malaikat. Dalam terminologi arab manusia disebut sebagai "hayawan natiqa" (hewan yang berpikir). Rasio atau akal adalah sebuah kemuliaan yang berikan kepada manusia untuk digunakan sebagai alat pemroses kehidupan ini agar menjadi baik.&lt;br /&gt;Kajian psikologi menunjukkan bahwa rasio menjadi motor penggerak prilaku manusia. Rasio dalam bahasan psikologi merupakan domain kognitif. Taksonomi Bloom menyebutkan tiga domian atau ranah yang ada dalam diri manusia, yakni, kognitif, afeksi (rasa), dan psikomotorik (karsa).&lt;br /&gt;Muhibin Syah (2004) menjelaskan bahwa domain rasio atau kognitif merupakan sumber penggerak domain-domain berikutnya. Tanpa berpikir seseorang mustahil dapat merasa, menyerap, dan akhirnya bertindak. Dengan kata lain, pikiran mengendalikan adanya gerakan tubuh.&lt;br /&gt;Ungkapan populer Rene Descrates "Cogito ergo sum". Aku berpikir maka aku ada. Mencerminkan kedalaman fungsi rasio dalam melahirkan karsa. Keberadaan kita berawal dari rasio. Wujud prilaku yang ditampilkan sehari-hari adalah gambaran dari apa yang ada pada rasio. Prilaku adalalah wujud rasio.&lt;br /&gt;Dari rasio itulah prilaku-prilaku berasal. Praktik korupsi adalah sebentuk tindakan yang telah melalui sistem-sistem di dalam otak dan tubuh. Korupsi adalah tindakan sadar yang sangat merugikan.&lt;br /&gt;Pembentukan pikiran korup bisa saja berasal dari lingkungan maupun dari dalam diri sendiri. Lingkungan hidup saat ini yang cenderung lebih mementingkan gaya hidup yang glamor dan mewah. Hal itu menjadi godaan-godaan untuk merengkuhnya dengan segala cara.&lt;br /&gt;Habituasi pejabat pemerintah tidak bisa lepas dari lingkungan ini. Pejabat adalah kelas sosial tinggi yang membutuhkan jubah ekstra tinggi untuk mengimbangi status sosial yang disandangnya. Sesuatu yang aneh jika seorang pejabat tidak bergaya hidup mewah. Pengaminan pola ini pada pejabat akan berpotensi membuka dengan lebar kran korupsi.&lt;br /&gt;Kekuasaan dan kesempatan untuk memperdaya rakyat dengan potensi itu sangat mungkin terjadi. Oleh karena adanya lingkungan semacam itu. Setenguh apapun prinsip hidup antikorupsi, akhirnya dapat tumbang juga. Arus angin godaan korupsi sangat besar, melampaui bekal mental dan keyakinan untuk mempertahankan prinsip idealnya.&lt;br /&gt;Mempertebal Benteng&lt;br /&gt;Benteng keyakinan adalah kunci rasio dan mental untuk menghalau godaan-godaan koruspsi. Internalisasi nilai pada rasio perlu ditekankan lebih dalam. Disiplin tinggi untuk mempertahankan diri agar tak terjerumus perlu dipertegas lagi.&lt;br /&gt;Faktor psikologi yang memengaruhi di atas merupakan suatu jawaban untuk mengatasi praktik korup. Pola relasi lingkungan dan motivasi diri membentuk pola pikir, karakter, dan akhirnya prilaku manusia. Maka, perlu adanya pembalikan bentuk lingkungan yang selama ini 'salah' pada pribadi korup.&lt;br /&gt;Lingkungan dan bentuk karakter diri memengaruhi rasio. Sehingga out put-nya linier dengan apa yang dipikirkan. Semangat untuk terus menebalkan benteng diri terhadap korupsi terus digelorakan. Disiplin diri menjadikan hal yang tidak mungkin menjadi bisa dilakukan. Kesulitan yang dihadapi dalam menghalau korupsi adalah cobaan untuk diri sendiri dalam menapaki derajat penghargaan diri.&lt;br /&gt;Sikap acuh terhadap suara-suara yang menyudutkan laku 'kaku' tersebut harus ditegakkan. Memikirkan hal-hal yang tak perlu dalam langkah perbaikan diri merupakan langkah berikutnya yang harus ditempuh.&lt;br /&gt;Dominasi Rasio&lt;br /&gt;Titik tekan pada pemangkasan korupsi adalah pada rasio. Cara ini mengandaikan adanya dorongan keluar yang bersumber dari pribadi-pribadi yang kuat untuk menolak korupsi. Rasio adalah pintu gerakan tubuh. Awal tingkah laku berasal dari rasio. Dominasi rasio dilakukan untuk menimbun benih-benih pola pikir korup.&lt;br /&gt;Dominasi nilai-nilai kebajikan pada rasio harus dilakukan. Sikap ajeg terhadap ini adalah syarat kesuksesan memangkas korupsi. Sesuatu yang 'banyak' akan mengalahkan yang 'sedikit'. Hukum ini berada pada tataran rasio. Instrumen diri, lingkungan dan dominasi merupakan jalan yang harus terus dipompa untuk memengaruhi rasio agar menolak korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dimuat Joglosemar/Opini (21/12). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-9219492335976532932?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/9219492335976532932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/12/memangkas-korupsi-dari-rasio-oleh-zakki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/9219492335976532932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/9219492335976532932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/12/memangkas-korupsi-dari-rasio-oleh-zakki.html' title=''/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-7434900130382735147</id><published>2009-11-05T03:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T03:10:20.578-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Laku Jigang Orang Kudus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Zakki Amali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudus, kota dengan beragam aktivitas industrialnya tak menafikan aspek relegiusitasnya. Atmosfir itu sangat mudah dijumpai di Kudus, seperti di pasar dan daerah pabrik rokok. Pagi buta warga kudus sudah memulai aktifitas dunianya, mencari nafkah. Saat senja melambai di ufuk barat, aktifitas pun berubah seketika. Lalu lalang warga memenuhi tempat ibadah, majlis taklim, pengajian merupakan pemandangan lumrah di Kudus. Artinya, denyut kehidupan warga Kudus memasuki alam akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi tersebut bukan hendak mengambarkan pemisahan yang tajam dengan citraan-citraan simbolik, melainkan hendak mewartakan adanya sinergitas dua kehidupan di Kudus, kehidupan dunia dan akhirat. Rutinitas menjaga keseimbangan dua kehidupan itu mengkristal pada satu konsepsi pola laku warga Kudus, Jigang (ngaji dan dagang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jigang adalah filosofi laku orang Kudus. Orang Kudus benar-benar mengimaninya. Bahkan menjadi salah satu syarat kultural bagi pengantin laki-laki jika ingin menikahi perempuan Kudus, harus bisa ngaji dan berdagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar Jigang&lt;br /&gt;Akar jigang barangkali dapat kita lacak dari tradisi keilmuan yang telah mengakar di Kudus dan gelora industrialsiasi yang telah lama bercokol. Istilah ngaji dalam legenda ketokohan Sunan Kudus Raden Dja'far Shadiq merupakan suata hal yang istimewa. Sunan Kudus dikalangan Walisanga dikenal sebagai waliyulilmi (wali yang sangat pintar). Gelar ini menunjukkan geliat keilmuan yang telah lama terpancangkan di Kudus. Di sini ngaji bermakna ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tutur yang beredar di masyarakat menunjukkan hal demikian, bahwa tradisi keilmuan di Kudus sangat tinggi. Misalnya, sabda Sunan Kudus yang terkenal, “Kudus bakul ora kulak”, yang artinya Kudus adalah gudang ilmu. Bakul bermakna gudang. Maka, jika boleh dikaitkan dengan realitas kekinian, Kudus menjadi kota penting dalam referensi pendidikan. Di Karisidenan Pati, Kudus seakan merajai tingkat keterpikatan anak-anak untuk bersekolah. Dengan kata lain, Kudus mampu menyedot warga daerah sekitar untuk menuntut ilmu di sana. Kudus menjadi bakul dalam artian rujukan masyarakat melabuhkan anaknya untuk bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi keilmuan (ngaji) setelah masa Sunan Kudus, terus dikembangkan oleh tokoh agama di Kudus yang menasional, semisal KHR. Asnawi, KH. Turaichan Adjhuri, KH. Syukron Makmun, KH. Arwani Amin, KH. Hisyam Hayat, sampai yang masih hidup KH. Sya’roni Ahmadi. Keberadaan mereka menyuburkan tradisi keilmuan dengan mengadakan majlis-majlis ilmu agama. Para tokoh tersebut semasa hidupnya selalu menyemaikan konsepsi ngaji dalam kesehariannya. Gelombang inilah yang meneguhkan spirit ngaji menjadi laku hidup orang Kudus. Inilah akar konsepsi ngaji yang merupakan laku kultural orang Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dagang&lt;br /&gt;Konsepsi dagang barangkali muncul seiring gelombang industrial menggelora di Kudus. Industri rokoklah yang menjadi denyut awal industrialisasi di Kudus, bahkan bertahan sampai sekarang dan terus berjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mark Hanusz (Kretek, The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes, 2003), mengambarkan tumbuhnya industri rokok krerek di Kudus muncul antara tahun 1870-1880 dengan dilpelopori H. Jamahri. Industri rokok memasuki masa awal kejayaan pada masa Nitisemito pada 1906 dan pada 1908 rokok kreteknya resmi terdaftar dalam pabrik “Tjap Bal Tiga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep geografis pada letak sebuah kota juga barangkali menjadi argumentasi penting melihat akar tradisi dagang di Kudus. Secara geografis Kudus terletak di lintasan jalur pantai utara jawa (Pantura). Jika hendak melintas dari Jawa Timur ke Jawa Tengah atau sebaliknya jalur ini menjadi pilihan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara langsung maupun tidak arus transportasi yang sangat ramai pun terbentuk. Dan itu menjadi alasan penting meretas bisnis. Karena secara ekonomi suatu tempat yang ramai merupakan situasi yang strategis menjaring pembeli. Keramaian membawa takdir kemajuan ekonomi bagi masyarakat Kudus. Karena di sana masyarakat membutuhkan pemenuhan kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Dari nasi sampai pulsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor industrialisasi dan konsepsi geografis Kudus menciptakan kultur dagang yang kuat dan mengakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinergisitas&lt;br /&gt;Amsal menarik melihat laku jigang di Kudus terdapat pada keberadaan Tarikat Syadzaliyah di Kudus. Radjasa Mu’tasim dan Abdul Munir Mulkhan dalam buku Bisnis Kaum Sufi: Studi Tarekat dalam Masyarakat Industri (1998), mengambarkan pola hidup yang sinergis antara dua kehidupan dunia-akhirat. Gerakan tarikat ini tidak menafikan kehidupan dunia yang sekarang sedang dihadapinya. Tetapi sisi akhirat tetap menjadi suatu hal yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi ekonomi gerakan ini mampu menawarkan solusi kesejahteraan hidup bagi penganutnya. Dan pada sisi akhirat, rutinitas tarikat tetap dilakukkan dengan kontinui. Pagi hingga sore mereka berbisnis atau berdagang di pasar, Dan ketika malam tiba mereka melakukan ritual tarikat dengan hikmat.Sehingga kebutuhan raga berupa pemenuhan aspek material seperti sandang, pangan, dan papan terpenuhi. Dan kebutuhan jiwa berupa asupan non material seperti ketenangan batin pun mereka dapatkan. Pada akhirnya mereka mendapatkan dua ketenangan sekaligus, dunia dan akhirat. Inilah spirit jigang yang patut dicontoh oleh semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan tarikat di atas menghalu styriotipe yang mengatakan bertarikat tidak ada kaitanya dengan kehidupan dunia. Tarikat murni berurusan dengan kehidupan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancaran spirit jigang tak hanya sampai pada pola kultural masyarakat Kudus. Pemkab Kudus juga turut mengadopsi konsep ini menjadi sebuah sesanti Kota Kudus, yang relegius dan modern. Sesanti yang dibangun bukan sekadar ciptaan yang artifisual, tetapi lebih menjurus  ke dalam denyut nadi kultural Wong Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relegiusitas di Kudus disimbolkan dengan adanya dua Walisanga, yakni Sunan Kudus Raden Dja’far Shadiq dan Sunan Muria Raden Umar Said. Sementara modernitas yang menjadi simbol Kudus juga tak kalah jelasnya terlihat. Mall-mall berdiri megah, gaya berpakian yang sudah menyimbolkan gaya perkotaan, sampai menjamurnya warnet yang merupakan produk teknologi dan simbol kesadaran melek jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku jigang orang Kudus adalah sebuah pelajaran penting melihat dan memaknai kehidupan yang kata orang jawa, mung mampir ngombe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;digunting dari Media Indoensia, 13 Juni 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-7434900130382735147?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/7434900130382735147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/11/laku-jigang-orang-kudus-oleh-zakki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/7434900130382735147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/7434900130382735147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/11/laku-jigang-orang-kudus-oleh-zakki.html' title=''/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-2856857771377026099</id><published>2009-11-05T03:03:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T03:05:20.942-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teks, Konsekuensi, dan Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Zakki Amali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitologi hukum karma selalu berlaku dalam kehidupan ini. Siapa menaman, dia menuai. Demikian halnya dalam menulis, siapa menulis dia menuai efeknya. Penulis mau tidak mau akan bersinggungan dengan realitas pembaca. Ketika teks dilempar, maka efek akan muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisau analisis untuk membedah fenomena itu dapat mengacu pada formula: kematian penulis (author). Penulis telah mati. Artinya, buah karya penulis, secara lahir dan batin adalah milik khalayak. Melenceng atau tidak penafsiran pembaca atas teks itu sepenuhnya tidak bersangkut-paut terhadap pribadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, acapkali realitas itu menyeret penulis pada titik traumatik. Misalnya, pada kasus Andrea Hirata yang sementara ini berpamitan pada dunia tulis-menulis. Ia tidak memberitahukan prediksi sampai kapan ''turun gunung'' pada dunia yang membesarkannya. Barangkali selama masih ada pembaca yang sentimentil dan melenceng dalam pembacaan karyanya, maka ia akan tetap bercokol pada idealismenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tragik Andrea Hirata patut menjadi perhatian dan menarik untuk dikaji dan dikaitkan dalam konteks pembahasan ini. Berbalik dengan teori penulis telah mati, ternyata Andrea tak begitu. Ia masih hidup untuk merespons pembaca. Jika konsisten dalam teori itu, tidak seharusnya Andrea mengeluarkan pernyataan yang amat berarti itu. Ia seharusnya bersikap tegar seteguh karang menghadapi sikap pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek Tragis&lt;br /&gt;Secara manusiawi ketika --meminjam  istilah Pramudya Ananta Toer-- anak  rohani itu lahir kemudian dikoyak dan pada akhirnya menimbulkan tragedi kemanusiaan, sens of humanity menjadi keniscayaan. Memori sejarah pada masa peradaban Islam di tlatah belahan Arab mengisahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Taymiyah (w 728 H./1328 M) harus menghadapi sikap penguasa lalim yang tidak sepaham dengannya. Dia dipenjarakan dan dibuang dari Mesir dan Suriah dikarenakan tulisan-tulisannya, dan setelah mengeluarkan fatwa yang menyinggung mereka yang berkuasa, dia dibiarkan mati di dalam penjara (Khaled Abou El Fadl, 2002 : 48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks yang tercipta menjadi semacam kekuatan lembut (soft power) yang menohok alam pikir penguasa. Hasrat kekuasaan merengkuh sikap arif dan bijak penguasa. Sehingga tanpa meraba hari depan, penguasa itu menggerakkan tangan dinginnya untuk memarjinalkan seorang yang tak sepaham dengannya. Otoritarianisme adalah tuan dari semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senasib namun beda tempat, di Indonesia tak luput dari tragedi semacam itu. Pramudya Ananta Toer adalah buku tragedi nyata yang menggambarkan otoritarianisme penguasa. Buku-bukunya dilarang beredar di Indonesia karena ditengarai akan meniupkan ruh marxisme, leninisme, dan komunisme, yang pada dikhawatirkan akan merusak negara. Karena dari paham itu gerakan PKI akan tumbuh lagi. Dengan dalih itu, pada era revolusi kemerdekaan sampai Orde Baru, Pram berkali-kali dipenjara tanpa pengadilan dan alasan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multiefect yang ditimbulkan Muhyidin M. Dahlan lebih bombastis lagi. Dengan novelnya bertitle Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur, ia harus berhadapan dengan sederet pasukan yang mengatasnamakan agama langit yang akan ''memeranginya''. Novel itu dinilai menyalahi etika dan melecehkan harkat agama tersebut. Berkali-kali Gus Muh, panggilan dalam blognya, menghadapi gugatan dari kelompok yang tidak setuju dengan novel tersebut. Tapi, ada juga yang menanggapinya dengan apik dan kreatif, yakni dengan membuat buku tandingan. Misalnya dalam blognya (http://akubuku.blogspot.com), terdapat buku tandingan berjudul Tuhan, Jangan Biarkan Saudariku Menjadi Pelacur dan Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus: Memoar Kepedulian Seorang Muslim. Gus Muh juga pernah mendapatkan somasi dari Majelis Mujahiddin Indonesia atas karya novelnya yang lain: Adam Hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak kisah efek teks yang mencengangkan. Setidaknya dari kisah itu kita dapat melihat betapa besar efek (positif maupun negatif) sebuah teks. Barangkali tepat jika pena dikatakan sebagai senjata. Senjata ampuh yang tak terlihat, kasat mata, namun efek yang ditimbulkannya bisa sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggungkap Kebenaran&lt;br /&gt;Pada akhirnya teks membutuhkan tanggung jawab atau konsekuensi dari penulis. Kadar bobot inteegritas seorang penulis akan diuji ketika teks yang telah dilahirkan mengalami penafsiran demi penafsiran, sekalipun bertabrakan dengan kepentingan penguasa. Di sinilah kebenaran mewujud sebagai sebuah ideologi teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Taymiyah, misalnya, adalah amsal nyata kesungguhan integritas mengimani teksnya, sampai wafat. Konsep mengungkap kebenaran dijalankan tidak setengah-setengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berisiko memang, misalnya, mengungkap kebenaran dalam himpintan perkoncoan dan kekerabatan, lewat teks. Dalam dunia jurnalistik konsep ini adalah teori dasar, bahwa sepahit apa pun fakta harus diungkap, lewat pemberitaan di surat kabar, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik simpul pada relasi teks dan konsekuensi menyajikan tegangan antara kebenaran dan kekuasaan. Tokoh literasi Indonesia seperti Pramudya Ananta Toer juga mengalami kegetiran mengungkapkan kebenaran. Karya-karyanya dibakar tak keruan oleh penguasa, lantaran substansi karya tersebut dianggap membelot dari kebenaran penguasa. Di Indonesia kisah getir semacam itu termasuk sangat banyak. Hampir setiap teks yang bertentangan dengan kebenaran komunal penguasa, akan diberangus. Padahal karya tersebut belum tentu membawa kenistaan terhadap penguasa, tidak jarang berbalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah pertaruhan kebenaran Galileo Gelilei telah melakoninya. Ketika otoritas gereja Italia saat itu meyakini bahwa bumi adalah pusat alam semesta, Galileo sebaliknya. Dengan segenap argumentasi ilmiahnya ia tetap mengimani pendapat Copernicus yang menyatakan bahwa mataharilah pusat alam semesta. Pendapatnya yang tak sepaham dengan otoritas kekuasaan saat itu mengantarkannya pada hukuman pengucilan hingga wafat. Namun pada masa berikutya, otoritas gereja Italia mengakui bahwa pendapat Gelileo-lah yang benar. Di sinilah risiko mempertahankan kebenaran diuji. Kebenaran tidak selamanya terbukti sekejap, sim salambim, melainkan menunggu waktunya untuk membuktikannya. Maka, selamanya kebenaran adalah kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya sebuah ikhtiar literasi selalu bersanding dengan segudang risiko dan beribu ancaman akan pemberangsusan dan penolakan terhadap teks. Pada titik ini keberanian mengungkap kebenaran menjadi pertaruhan. Mempertaruhkan diri pada kebenaran dan dari teror penguasa lalim. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;digunting dari Jawa Pos, 05 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-2856857771377026099?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/2856857771377026099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/11/teks-konsekuensi-dan-kebenaran-oleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/2856857771377026099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/2856857771377026099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/11/teks-konsekuensi-dan-kebenaran-oleh.html' title=''/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-7765233918985524639</id><published>2009-10-18T04:41:00.000-07:00</published><updated>2009-10-18T04:46:41.204-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_qi9I1PxdbN0/Str_o6z1esI/AAAAAAAAACc/flXHmXhDXQ4/s1600-h/warga+berebut+kupat+lepet-septina+naviyanti.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 229px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_qi9I1PxdbN0/Str_o6z1esI/AAAAAAAAACc/flXHmXhDXQ4/s320/warga+berebut+kupat+lepet-septina+naviyanti.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393904582176111298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Makna Pola Tradisi Syawalan Masyarakat Pantura&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Zakki Amali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri telah berlalu, namun tidak bagi masyarakat Jawa Tengah. Karena Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal masih akan diteruskan dengan tradisi Syawalan. Tradisi Syawalan digelar tepat pada tanggal 8 Syawal. Berbagai daerah mempunyai bentuk khas kegiatan Syawalan ini. Setidaknya ada tiga pola tradisi Syawalan di Pantura yang sarat makna.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Haul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ziarah kubur atau haul. Kota Kaliwungu dan Kudus mempresentasikan pola ini.&lt;br /&gt;Masyarakat Kaliwungu mengadakan ziarah kepada ulama besar Kaliwungu Kiai Asy’ari (Kiai Guru).Awalnya acara ini hanya dilakukan oleh pihak keluarga, sanak famili, dan orang-orang terdekat Kiai Guru.&lt;br /&gt;Namun seiring waktu, warga muslim di Kaliwungi turut menghormati orang yang menurut mereka berjasa besar dalam penyebaran agama Islam. Berkembangnya jumlah masyarakat ini juga membawa dampak pada penyelenggaraan acara dan wilayah ziarah kubur. Jika awalnya Syawalan terpusat pada makam Kiai Guru, kini melebar kepada sesepuh-sesepuh lain yang telah berjasa di Kaliwungu, seperti makam Sunan Katong, Pangeran Mandurarejo (seorang Panglima Perang Mataram) dan Pangeran Pakuwaja, Kiai Mustofa, Kiai Musyafa’, dan Kiai Rukyat.&lt;br /&gt;Sementara di Kudus terdapat tradisi Bulusan. Inti tradisi ini adalah memberikan penghormatan kepada Umara dan Umari yang disabda menjadi kura-kura air tawar (bulus) dan sahabat Sunan Muria Mbah Dada. Berubahnya Umara dan Uamri menjadi bulus berwal dari kelalaiannya meramaikan hari agama malam Nuzulul Al Qur’an. Pada malam itu mereka malah sibut ndaut (mengambil benih padi di sawah). Singkat cerita Sunan Muria Raden Umar Said melintasi sawah tersebut dengan sedikit gerundel. “Malam nuzulul Al Qur’an kok tidak membaca Al Qur’an, malah berendam di air seperti bulus”. Maka seketika itu, Umara dan Umari berubah wujud menjadi bulus.&lt;br /&gt;Namun, di lain waktu ketika Sunan Muria melintas lagi dan bercakap dengan bulus itu, Sunan Muria memberikan kolam atau sendang sebagai “rumah”. Dan Sunan Muria pun berujar, “Besok anak cucumu akan menghormatimu setiap satu minggu setelah hari raya lebaran pada bulan Syawal”. Maka, sampai saat ini tradisi tersebut berlangung dan dikenal dengan Bulusan.&lt;br /&gt;Tradisi ziarah kubur ini menurut Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa (1984: 328) merupakan salah satu tradisi dan budaya Islam Jawa yang masih hidup, dan menjadi media penghormatan kepada makam-makam orang suci, baik ulama atau kiai.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lomban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pola kedua bertema bahari, yakni Lomba yang diadakan di Semarang, Demak, Jepara dan Rembang. Lomban merupakan tradisi penghormatan terhadap penguasa laut. Asosiasi ini, saat ini merujuk kepada Tuhan sebagai wujud syukur atas rezeki hasil laut yang melimpah ruah. Dahulu larung sesaji ditujukan untuk mahluk halus atau yang bau rekso penguasa laut.&lt;br /&gt;Sesaji yang dilarung berbeda-beda. Di Jepara dan Rembang, misalnya. Perbedaannya terletak pada kepala hewan. Di Jepara adalah kepada Kerbau, sementara di Rembang adalah kepala Kambing. Namun, secara substansi orientasinya sama yakni memohon kepada Tuhan melalui ritual larung agar diberi keselamatan dalam melaut dan hasil yang melimpah.&lt;br /&gt;Ritual ini penting dilakukan karena laut sebagai sebuah dimensi mistis adalah kerajaan besar nan abadi para mahluk halus, setidaknya mitos Nyi Roro Kidul menjadi dalih itu. maka, masyarakat pesisir yang bergantung kepada laut mau tidak mau melakukan ritual untuk menghalau hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara dalam dimensi alam, laut entitas yang tidak stabil. Atinya gelombang badai, ombak besar siap menerjang nelayan di laut lepas. Maka melalui Lomban harapan akan keselamatan diungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuliner&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Syawal pola terakhir adalah terkait denga kuliner. Ada tiga kota yang mempunyai tradisi ini, Pekalongan, Jepara, dan Kudus. Di desa Krapyak, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan masyarakat membuat kue lapis raksasa untuk merayakan Syawalan. Menurut cerita yang berkembang, kebiasaan membuat kue lapis itu sudah mulai sejak tahun 1936. Tradisi ini merupakan strategi syiar agama Islam para ulama saat itu dan sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat, khususya yang kurang mampu. Gunungan kue lapis itu diperebutkan oleh masyarakat. Konon lantaran lapis itu berkah dan rezeki yang melimpah akan datang.&lt;br /&gt;Di Jepara, selain Lomban, masyarakat pesisir juga mempuyai tradisi Perang Ketupat. Acara ini dilangsungkan usai larung sesaji atau Lomban di Pantai Kartini. Perang ini diperagakan oleh nelayan yang mengiringi Lomban. Pada tahun ini perang ketupat ditiadakan, karena khawatir akan ekses negatif. Pasalnya tahun kemarin, wisatwan ada yang terluka akibat lemparan ketupat yang meleset. Sehingga ada semacam kekuranglengkapan dari perayaan Syawalan bertema kuliner tahun ini.&lt;br /&gt;Di Kudus tradisi Syawalan selain Bulusan adalah kirab 1000 ketupat di Desa Colo, Gunung Muria. Kirab tersebut baru diselenggarakan sudah tiga tahun ini. Meski tergolong tradisi baru, animo masyarakat sangat besar. Ini terbukti dengan pengunjung tahun ini yang membludak, sampai jalan menuju lokasi macet total. Akhir acara ini sebagaimana pembuatan lapis raksasa di Pekalongan menjadi ajang cari berkah lewat gunungan makanan yang di kirab tersebut.&lt;br /&gt;Pada titik ini kuliner bukan sekadar kebutuhan perut, tetapi menjadi ajang pemaknaan atas hari yang fitri, dimana manusia kembali suci. Kuliner mempresentasikan harapan-harapan akan keselarasan bermasyarakat. Lapis, ketupat, dan lepet adalah simbol-simbol masyarakat Jawa untuk berkomunikasi. Lapis merupakan simbol keselarasan. Karena dalam satu bentuk jajan itu terdapat perbedaan warna dan rasa. Maka, ketika perbedaan itu bersatu akan terlihat indah dipandang. Di sini, harapan akan toleransi bermasyarakat sebagai titik simpulnya.&lt;br /&gt;Begitu pula ketupat dan lepet adalah simbol maaf-memaafkan. Ketupat berarti ngaku lepat (mengaku salah), sementara lepet berarti dilep rapet-rapet (dibenamkan dalam-dalam) kesalahan-kesalahan masa lalu, untuk kemudian membuka lembaran berkehidupan yang baru.&lt;br /&gt;Dengan demikian pola tradisi Syawalan di Pantura ini sangat beragam dan mempunyai makna masing-masing yang bersinergi membangun masyarakat yang toleran dan peduli terhadap sesama. Satu simpulan menarik pada bulan kelahiran manusia-manusia suci ini adalah keselamatan lahir batin. Agar dapat dipertemukan kembali tahun mendatang. Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-7765233918985524639?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/7765233918985524639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/10/makna-pola-tradisi-syawalan-masyarakat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/7765233918985524639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/7765233918985524639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/10/makna-pola-tradisi-syawalan-masyarakat.html' title=''/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_qi9I1PxdbN0/Str_o6z1esI/AAAAAAAAACc/flXHmXhDXQ4/s72-c/warga+berebut+kupat+lepet-septina+naviyanti.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-6661120805341907085</id><published>2009-10-02T03:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T03:44:59.911-07:00</updated><title type='text'>Naskah Kompetisi Menulis Blog Hak Kekayaan Iintelektual Teknopreneur</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CPARADI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Menumbuhkan Kesadaran Keberaksaraan, Memanen Rupiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Oleh : Zakki Amali, bergegas.blogspot.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tahun 2009 menandai kebangkitan ekonomi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan tahun ini sebagai tahun ekonomi kreatif. Visi dan misi pemerintah adalah membangkitkan perekonomian rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; untuk, meminjam istilah Bung Karno, berdiri di kaki sendiri (berdikari).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ekonomi kreatif bertujuan mengembangkan produk-produk yang ditangani oleh bangsa sendiri. Pemberdayaan rakyat sebagai sumber daya manusia menjadi fokus utama dalam agenda ekonomi kreatif. Diharapkan produk yang dihasilkan anak negeri mempunyai daya saing dengan produk-produk dari luar negeri, sehingga konsumen lebih memilih produk dalam negeri. Pada fase berikutnya ekonomi kreatif menjadi harapan bersama. Kecenderungan untuk berkembang sangat besar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; 14 subsektor ekonomi kratif yang dapat dikembangkan. Keempat belas subsektor itu adalah, (1) periklanan, (2) arsitektur, (3) pasar barang seni, (4) kerajinan, (5) desain, (6) fesyen, (7) film, video, dan fotografi, (8) permainan kreatif, (9) musik, (10) seni pertunjukan, (11) penerbitan &amp;amp; percetakan, (12) layanan komputer dan piranti lunak, (13) radio &amp;amp; televisi, (14) riset &amp;amp; pengembangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pertumbuhan ekonomi kreatif terus meningkat. Menurut data Departemen Perdagangan, industri kreatif pada 2006 menyumbang Rp 104,4 triliun, atau rata-rata 4,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional selama 2002-2006. Jumlah ini melebihi sumbangan sektor listrik, gas dan air bersih. Tiga subsektor yang memberikan kontribusi paling besar nasional adalah fesyen (30%), kerajinan (23%) dan periklanan (18%). Selain itu, sektor ini mampu menyerap 4,5 juta tenaga kerja dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17,6% pada 2006. Ini jauh melebihi tingkat pertumbuhan tenaga kerja nasional yang hanya sebesar 0,54%. Namun, ia baru memberikan kontribusi ekspor sebesar 7%, padahal di negara-negara lain, seperti Korea Selatan, Inggris dan Singapura, rata-rata di atas 30%.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Data ini mengatakan bahwa ekonomi kreatif mempunyai masa depan yang cerah. Minat masyarakat semakin menggairahkan. Di sisi lain, lapangan pekerjaan juga terbuka lebar. Sehingga pengangguran dapat terpangkas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Urgensitas HKI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada tahap berikutnya perkembangan ini membutuhkan kawalan dari pemerintah dan masyarakat. Pasalnya beberapa kasus tentang hak karya inteletual (HKI) mencuat dan menjegal masyarakat dalam berkarya. Kasus pencurian HKI, misalnya, pada produk ukiran atau mebel Jepara, Jawa Tengah menjadi masalah serius. HKI ukir Jepara yang seharusnya milik warga Jepara telah terlebih dahulu didaftarkan oleh Christopher Harrison, Pemilik PT Harrison &amp;amp; Gil yang berlokasi di Semarang, dalam buku katalog berjudul Harrison &amp;amp; Gil Carving Out A Piece of History ke Direktorat Jendral HKI.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Masalah ini kemudian membuat penolakan terhadap produk ukir di Jepara. PT Citra Nuansa Nusantara Aris Munandar ditolak oleh relasi bisnisnya di Prancis. Ia beralasan motif ukiran Aris sudah dipatenkan pengusaha lain di negaranya. Padahal sang pelanggan kerap memborong ribuah buah kursi taman hasil karya Aris dengan jumlah ribuan, dengan harga perbuah Rp 100 ribu (Sunariah, Sohirin, dan Joniansyah, &lt;i style=""&gt;Ukiran Jepara Disandera Katalog,&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Majalah Tempo&lt;/i&gt;, vol. 37 no. 07, Apr. 2008, hlm.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;88)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Keberaksaraan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kasus HKI ini sangat krusial dalam tragedi di Jepara itu. Christopher bisa jadi disalahkan dalam kasus ini, namun masyarakat sendiri seharusnya pun instrokpeksi. Jangan-jangan kasus tersebut karena kelalaian masyarakat mendaftarkan pada Direktorat Jendral HKI. Sikap diam terhadap HKI ini tidak bisa dilepaskan dari kultur masyarakat yang kurang peka terhadap realitas. Kultur kepekaan terhadap informasi bisa jadi menjadi bumerang bagi masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Telah lama Prof. A Teeuw menerangkan tentang kultur ini dalam &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;i style=""&gt; Antara Kelisanan dan Keberaksaraan&lt;/i&gt; (1994). Menurutnya kultur masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; didominasi oleh kellisanan. Kultur ini berdampak pada pengarsipan. Sebagai contoh adalah cerita atau legenda sebuah daerah yang dapat diketahui dari cerita mulut. Dalam skup yang luas, kini tingkat literasi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sangat memprihatinkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kultur kelisanan dalam kaitan dengan HKI merupakan penghalang. Artinya kesadaran untuk mematenkan produk karyanya tidak bisa hanya diabadikan dari cerita tutur, dari mulut ke mulut saja. Tetapi butuh bukti legal, yakni sertifikat dari Direktorak Jendral HKI. Beralihnya kultur kelisanan pada keberaksaraan memang agak menyulitkan karena kebiasaan yang sudah membudaya harus dirombak. Hal itu harus dilakukan demi stabilitas ekonomi kreatif masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kesadaran untuk pro aktif mencari informasi tentang HKI dan mendaftarkannya adalah langkah mengatasi persoalan ke depan dalam berwirausaha. Peran serta pemerintah dan masyarakat, serta elemen yang peduli sangat penting. Pemerintah, misalnya, membuat program sosialisasi HKI kepada masyarakat, terlebih yang dinilai masih minim pengetahuan tentang HKI. Bagai gayuh yang bersambut, masyarakat merespon positif dengan menginventarisir karyanya untuk kemudian didaftarkan. Sementara harus ada pihak independen yang selalu mengingatkan akan pentingnya HKI dalam rangka berwirausaha dan menumbuhkan ekonomi kreatif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dengan adanya kesadaran keberaksaraan ini iklim ekonomi kreatif bakal cerah. Masyarakat dengan berbagai varian usahanya dapat berkarya dengan maksimal dan nyaman. HKI sebagai kunci penting dalam kelangsungan ekonomi kreatif harus terus digelorakan bersama. Keberaksaraan harus tetap ditumbuhkan, agar rupiah terus bisa dipanen. Semoga.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-6661120805341907085?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/6661120805341907085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/10/menumbuhkan-kesadaran-keberaksaraan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/6661120805341907085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/6661120805341907085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/10/menumbuhkan-kesadaran-keberaksaraan.html' title='Naskah Kompetisi Menulis Blog Hak Kekayaan Iintelektual Teknopreneur'/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-4675924066747280635</id><published>2009-10-01T11:47:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T11:50:18.520-07:00</updated><title type='text'>KOMPETISI MENULIS BLOG</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a target="_blank" href="http://teknopreneur.com/content/kompetisi-menulis-blog//"&gt;&lt;img style="width: 345px; height: 162px;" alt="Teknopreneur" src="http://www.teknopreneur.com/sites/default/files/banner.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-4675924066747280635?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/4675924066747280635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/10/teknopreneur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/4675924066747280635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/4675924066747280635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/10/teknopreneur.html' title='KOMPETISI MENULIS BLOG'/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1736298161590453047.post-4997094235060774084</id><published>2009-10-01T10:20:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T10:55:12.945-07:00</updated><title type='text'>artikel pertama di koran</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ini adalah artikel pertama di koran (Suara Merdeka/Debat Kampus/Sabtu). terlihat sangat wagu dan lucu. berangkat dorongan seorang kawan yang intens menulis. setelah bergelut dengan berbagai halang tintang, akhirnya dimuat juga. pertama kali lihat ngak percaya. ketika itu aku berada di semarang bersama rofiq dan pipit dan zumi. yah, artikel yang terus membuat aku menulis hingga detik ini, dan seterusnya. semoga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Menyelesaikan  Masalah Tanpa Masalahkah?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh : Zakki Amali&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; Tanpa bahan bakar, mesin tidak akan mampu bergerak  dan menggerakkan. Manusia juga membutuhkan bahan bakar berupa makanan. Dua hal yang sama-sama membutuhkan bahan bakar tetapi berbeda dalam segi kelanggengannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; Menjadi maklum adanya bahan bakar kendaraan bermotor terasa mahal dan semakin langka saja, menipisnya cadangan minyak dunia tidak lain dikarenkan posisinya sebagai salah satu  sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Di sudut lain kendaraan bermotor membutuhkan BBM yang banyak seiring bertambah banyaknya kuantitasnya. Seimbangkah perbandingan tersebut!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; Menyoal fenomena semacam itu, pemerintahpun melahirakn sebuah terobosan baru dengan kartu &lt;i&gt;smart card&lt;/i&gt;nya. Permenungan panjang dilewati dalam mendedahkan &lt;i&gt;problem solving&lt;/i&gt; ini. Mulai dari mempertimbangkan melonjaknya harga minyak dunia -hingga pernah menyentuh angka $100 Dolar perbarel, sampai menyangkut hajat hidup rakyat Indonesia, khusunsya pemenuhan suplai bahan bakar kendaraan bermotor (BBM). Tapi apakah cara pemerintah mengatasi masalah tersebut akan menyelesaikan masalah atau malah menimbulkan masalah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; Jawabya bukan terletak pada bermasalah apa tidak, melainkan pada cara yang digunakan pemerintah mengatasi kelangkaan BBM. Fungsi &lt;i&gt;Smart Card &lt;/i&gt;hanya dapat diarasakan sementara, ia sebatas obat penghilang ‘rasa sakit’ bukan obat penyembuh yang sebenarnya.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Karena pangkal permasalahannya adalah pada banyaknya kendaraan bermotor yang jelas membutuhkan BBM, bukan pada pembatasan dan pengefisienan pemakainnya. Andaikata jumlah kendaraan bermotor tidak sebanyak sekarang niscaya kelangkaan BBM tidak akan terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; Yang perlu dipangkas habis adalah nafsu serakah masyarakat Indonesia dalam kepemilikan kendaraan bermotor. Banyaknya kendaraan bermotor yang dimiliki sebuah keluarga tekadang melebihi batas kebutuhan normal. Misal saja sebuah keluarga dengan pendapatan di atas rata-rata cukup mempuynai  satu sepeda motor dan sebuah mobil, tetapi dalam realita melebihi dari semestinya dan itu banyak kita jumpai disekitar kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; Selain mengakampanyekan pembatasan pemakaian BBM bagi kalangan yang berpendapatan di atas rata-rata yang notabene banyak ‘mengkonsumusi‘ BBM, pemerintah juga mengkampanyekan hemat kepemilikan kendaraan bermotor dan kalau perlu memperketat izin produksi dan distribusi kendaraan bermotor dari dalam maupun luar negeri. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt; Sebuah dilema memang menyoal BBM yang semakin langka. Di satu sisi dibutuhkan dan di sisi lain cadangan minyak dunia semakin menipis. Iktiyar pemerintah akan berbuah bilamana tidak hanya memikirkan kebutuhan BBM yang terus bertambah, melainkan pula akar permasalan tersebut yaitu pada banyaknya kendaraan bermotor sendiri. Bukan mustahil pemerintah mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah, bukan menyelesaikan masalah dengan masalah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;*sumber : Suara Merdeka, 23 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1736298161590453047-4997094235060774084?l=bergegas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bergegas.blogspot.com/feeds/4997094235060774084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/10/artikel-pertama-di-koran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/4997094235060774084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1736298161590453047/posts/default/4997094235060774084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bergegas.blogspot.com/2009/10/artikel-pertama-di-koran.html' title='artikel pertama di koran'/><author><name>berkata-kata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02818530481691592267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
